Dalam
sambutannya, Bapak I Wayan Adnyana menekankan pentingnya peran guru dalam
membangun generasi bangsa yang unggul. “Guru tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga
membentuk karakter generasi muda. Belum
lagi dengan pendidikan inklusif yang kini menjadi perhatian penting di jenjang
Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pendidikan inklusif hadir sebagai langkah
konkret mewujudkan sistem pendidikan yang ramah dan inklusif bagi semua anak
Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar Menengah (Kemendikdasmen)
terus memperluas akses dan fasilitas untuk memastikan setiap anak, termasuk
anak berkebutuhan khusus, mendapatkan hak belajar yang setara. Di sinilah peran guru sebagai kunci peningkatan
kualitas sumber daya manusia yang menjadi pilar kemajuan bangsa,” ujarnya di
hadapan guru dan siswa.
Melalui pidatonya, kepala SMP THJ menyampaikan
beberapa kebijakan Menteri Pendidikan Adbul Mu’ti terkait peningkatan kualitas guru, di antaranya pemenuhan
kualifikasi guru, pelatihan bimbingan konseling, dan langkah nyata untuk
memperbaiki kesejahteraan guru.
Kolaborasi untuk menangani kekerasan dalam pendidikan
pemerintah akan menandatangani nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama
dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk menyelesaikan kasus kekerasan
di dunia pendidikan secara kekeluargaan, guna menciptakan lingkungan belajar
yang aman dan nyaman.
Pengangkatan guru honorer sebagai ASN
Kemendikdasmen akan memprioritaskan pengangkatan guru honorer menjadi Aparatur
Sipil Negara (ASN) melalui seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja
(ASN PPPK), memberikan kepastian status dan peningkatan kesejahteraan bagi para
guru honorer. Dalam pidato tersebut, Abdul Mu'ti juga mengajak semua pihak
untuk menunjukkan penghormatan kepada para guru sebagai wujud apresiasi atas
pengabdian mereka. “Mari kita senantiasa bersikap sopan, hormat, dan
menunjukkan semangat belajar yang tinggi sebagai bentuk penghargaan kepada
guru,” pesan beliau yang disampaikan oleh Kepala SMP Tunas Harapan Jaya.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, Pak Adnyana
(sapaannya) mengingatkan pentingnya dedikasi guru di tengah
tantangan era Society 5.0, peralihan ke kurikulum berbasis deep learning, dan penerapan
pendidikan inklusif di Indonesia. “Sebagai pendidik, kita memiliki tanggung
jawab besar untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga mempersiapkan generasi muda
yang siap bersaing di masa depan. Meskipun tantangan terus berkembang, dedikasi
kita adalah kunci untuk menghadapi perubahan,” ujar beliau di hadapan guru dan
peserta didik.
Era
Society 5.0, yang mengintegrasikan teknologi maju ke dalam berbagai aspek
kehidupan, menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Guru dituntut
untuk menguasai teknologi dan mampu mengintegrasikannya dalam pembelajaran.
“Teknologi adalah alat, bukan pengganti. Kreativitas dan empati guru tetap
menjadi kekuatan utama,” tambah Pak Adnyana. Sedangkan untuk komitmen terhadap pendidikan inklusif, Bapak I
Wayan Adnyana mengingatkan kembali bahwa semua siswa, termasuk mereka yang
berkebutuhan khusus, memiliki hak yang sama untuk belajar. “Inklusi bukan hanya
soal menerima, tetapi tentang menciptakan lingkungan di mana setiap anak merasa
didukung dan dihargai. Ini membutuhkan hati yang besar dari setiap guru,”
ucapnya.
Pada puncak perayaan ini, tidak lupa Pak Adnyana mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh guru di lingkungan SMP Tunas
Harapan Jaya atas dedikasi, kesabaran, dan pengabdian luar biasa dalam mendidik
dan membimbing peserta didik. Beliau berharap agar para guru selalu diberikan
kesehatan, kebahagiaan, dan semangat untuk terus menginspirasi. Di samping itu
juga beliau selalu menyemangati seluruh guru untuk semakin maju dalam mencetak
generasi yang berkarakter, cerdas, dan berprestasi. Dan terpenting tetap
menjaga solidaritas antarguru, siswa, dan seluruh warga sekolah semakin
harmonis, penuh rasa hormat, dan kasih sayang. Semoga semangat membangun bangsa
melalui pendidikan terus tumbuh, seiring dengan berkembangnya visi SMP Tunas
Harapan Jaya.